A litle poem from my ink..

A CHAPTER OF MY LIFE…
High School Poems

DI BALIK SAYAPMU..
Kau peluk aku dengan sayapmu
Melindungiku dari segala terik menyengat
Jika nanti sayapmu telah rapuh
Kehidupan apa yang bisa aku jalani diluar sana
Maka Turunlah sejenak dan lihat ketakutanku…
Kau selalu hibur aku dengan tarian sayapmu
Tak pernah ada hati sedih mengurung
Tapi ketika nanti kau terbang meninggalkanku
Aku kembali kesepian dan menangis
Maka Turunlah sejenak dan lihat kepedihanku
Kau slalu membawaku terbang bersamamu
Ku lihat indah dan kengerian dunia
Tapi suatu saat kau pasti lelah dan
Kau lepaskan peganganmu hingga ku terjatuh….
Rasakan getaran tubuhku
Dengarkan suara hatiku
Memangil dan meneriakan namamu
Sekali lagi….Turunlah sejenak dan lihat kehancuranku

24 Aug 04
Blue room, pas bangun tidur
MANUSIA HINA…

Beribu kata menusuk hatimu
Kulontarkan dengan lidah tajam
Kau hanya diam seolah bisu
Walau hatimu sakit lebam
Membuat luka yang teramat dalam
Tatap mataku beringas menembus kalbu
Cerminkan marah yang tak ku tahan
Kau hanya beringsut tertunduk lesu
Hingga bendungan mata hancur berserakan
Tapi dihatimu tak pernah terlintas kebencian
Begitu banyak jahatku menyiksamu
Bisakah aku tebus semua itu?
Dengan tanpa malu di hatiku
Ku perintahkan lidah untuk menyampaikan maafku
Hanya Dengan sebuah kata aku ingin kau maafkan
Aku……hina………..

24 Aug 04
PAGI ITU
Bukan maksud hati tuk tak menemani
Membiarkanmu diselimuti rasa sepi
Bukan maksud hati perkataan tak ditepati
Membiarkanmu termakan emosi
Mata ini terlambat kubuka tadi pagi
Aku terlelap menikmati alam mimpi
Hinggaku tak sempat mandi dan gosok gigi
Karena itu kuputuskan tuk tak pergi
Aku harap kau bisa mengerti
Karena akupun tak mau begini
Lagi pula banyak temanmu menanti
Dengan sekejap aku bisa terganti
Maafkan aku tak datang hari ini
Sesuatu hal membuatku seperti ini
Aku pun disini lebih merasa sepi
Tapi ku ucapkan maaf sekali lagi

24 Aug 04
rasanya sang surya mulai bersahabat….
KETIKA IA MENJEMPUT

Tolong……..
Jangan ambil diriku…
Masih banyak yang harus kulakukan…..
Masih ada tanggung jawab yang tak bisa kutinggalkan…
Tolong……
Jangan ambil diriku……
Aku belum melakukan sesuatu yang berarti……
Aku belum mengumpulkan bekal tuk diri ini…
Ku mohon……. Tolong….
Jangan ambil diriku……..
Aku telah membuat bergunung dosa….
Tapi tak satu gundukanpun ku buat pahala…..
Tolong ……ku bersujud memohon….
Jangan ambil diriku……..
Berikan satu kesempatan……
Kesempatan tuk meluruskan jalan……
Alasan ini tak merubahnya…….
Forgot the time and place….

SUATU HARI DI LORONG ITU….
Panas hari tak tertahan
Bagai api berkobar dalam awan
Mambakar hati seorang insan
Hinga merah menyala
Memancing semua kemarahan
Hingga PRANG…akal sehat hancur berserakan
Yang ada hanya pisau yang terhunus
Dalam sekejap tajam menembus
Hilanglah kau angkara murka
Diiringi sang setan tertawa
Meningalkan diri yang berdosa
Melahirkan sesal dan air mata

ORANG-ORANG SEKELILINGKU
Ketika teriakku lontarkan
Banyak terdengar bisikan
Pelan tapi menyakitkan
Tak bolehkah ku bicara keyakinan
Ketika lantangku getarkan
Dengan cepat semua penjuru menekan
Membuat dada penuh menyesakan
Tak sudikah dengarkan perasaan
Tapi begitulah kehidupan
Penuh pengorbanan jika ingin kedepan
Semoga semua bisa bertahan
Hanya dengan cara yang dihalalkan

CURAHAN HATI SEORANG MUNAFIK
Kulukiskan namaMu di atas bidang yang hitam
Tapi warnaMu tetap bercahaya putih ke emasan
Hingga terciptalah satu kesucian
Diatas kolam kekotoran yang menjijkan
Goresan tinta putih itu…….
Mampu membuatku masih merasakan cahaya
Menghangatkan jiwa yang beku oleh suram kemunafikan…..
DARAHKU HALAL DIBUNUH….tak ada orang yang tak menganggapku musuh
Biarku disayat-sayat pedang, karna aku hanya seekor pecundang
Aku tidak bisa disandingkan denganmu oh…..yang membawa kesucian…..
Tapi jika aku boleh memilih..Aku ingin diam di tempatMu, Disampingmu, Diselimuti hangatmu….
Diri yang kotor ini pun juga menginginkan itu……….

I remember that time
Joke with friends and so fine
We often sing many songs
Screaming and laughing for long
I remember that time
My girl smile like a sun shine
We always be together
She said she will love me forever
But now it’s all gone
The Happiness who I miss the sound
I fell like being taken out from this world
Could you see we have the same human blood
I just want to be happy
I’ll grab it whenever I see
I’ll find the way to take you back to me
I just want you can fell this body

…As It’s comes..
I Close my eyes and felt the darkness
The time was empty and lonely
Finally it all comes to and end
And slowly, all about me will never be remembered again
Only one thing that I’ve regretted
In the deep, a few words always be secret
And…
Our story was never started or ended
Even perhaps there was nothing to be forgotten
But in my heart your name has been written

A Chapter Of My Life

Artikel

To The Teacher

Taken from Practice and progress by L. G. Alexander

Language Learning at the Pre-Intermediate Level

General Principle

Traditional methods of learning a foreign language die hard. As long ago as 1921, Dr Harold Palmer pointed out the important difference between understanding how a language works and learning how to use it. Since that the time, a great many effective techniques have been developed to enable students to learn a foreign language. In the light of intensive modern research, no one would seriously question the basic principles that have evolved since Palmer’s day, tough there is considerable disagreement about how these principles can best be implemented. Despite the great progress that has been made, teachers in many part of the world still cling to old-fashioned method and to some extend perpetuate the system by which they them selves learnt a foreign language. It may, therefore not be out of place to restate some basic principles and to discuss briefly how they can best be put into effect in the class room.

Learning a language is not a matter of acquiring a set of rules in building up a large vocabulary. The teacher’s effort should not be directed at informing his students about a language, but at enabling them to use it. A student mastery of a language is ultimately measured by how well he can use it, not by how much he knows about it. This respect learning a language has much in common with earning a musical instrument. The drills and exercise a student does have one and in sight: to enable him to become a skilled performer. A student who has learnt a lot of grammar but who can not use a language is in the position of a pianist who has learnt about harmony but can not play the piano. The student’s comment of a language will therefore be judged not by how much he knows, but he how well he can perform in public.

In order to become a skilled performer, the student must become proficient at using the units of a language. And the unit of a language is not, as was once commonly supposed, the word, but the sentence. Learning words irrespective of their function can be a waste of time, for not all words are equal. We must draw a distinction between structural words and lexical items. Words like I, you, he, etc. are structural. Their use can be closely defined; they are part of grammatical system. Words like tree, plant, flower etc. are purely lexical items and in no way part of grammatical system. From the learner’s point of view, skill in handling structural words is the key to mastering a language, for the meaning that is conveyed in sentence-patterns depends largely on the function of structural words that hold them together.

It is possible, though this has yet to be proved scientifically, that every student of a foreign language has what might be called a ‘language ceiling’, a point beyond which he cannot improve very much. If we accept this supposition, our aim must be to enable every student to learn as much as he is capable of learning in the most efficient way. The old-fashioned translation and grammar-rule methods are extremely wasteful and inefficient, for the student is actually encouraged to make mistake: he is asked to perform skills before he is adequately prepared. Teachers who use such methods unwittingly create the very problems they seek to avoid. At some point in the course their students inevitably become incapable of going on: they have to go back. They have become remedial students and the teacher is faced with the problem remedying what has been incorrectly learnt. No approach could be more ineffective, wasteful and inefficient.

The student should be trained to learn by making as few mistakes as possible. He should never be required to do anything which is beyond his capacity. A well-designed course is one which takes into account what might be called the student’s ‘state of readiness’: the point where he can proceed from easy to difficult. If the student is to make the most of his abilities, he must be trained to adopt correct learning habits.

What has to be learnt?

The student must be trained adequately in all four basic language skills: understanding, speaking, reading and writing. In many classroom courses the emphasis in wholly on the written language. The student is trained to use his eyes instead of his ears and his inability to achieve anything like correct pronunciation, stress and intonation must be attributed largely to the tyranny of the printed word. If the teacher is to train his students I all four skills, he must make efficient use of the time at disposal. Efficiency presupposed the adoption of classroom procedures which will yield the best results in the quickest possible time. The following order of presentation must be taken as axiomatic:

Nothing should be spoken before it has been heard.

Nothing should be read before it has been spoken.

Nothing should be written before it has been read.

Speaking and writing are the most important of these skills, since to some extent they presuppose the other two.

A Chapter Of My Life

TEORI-TEORI HUMOR

Dalam berpidato, ceramah atau ketika Anda menjadi seorang pembicara dalam suatu presentasi atau yang lainya, Anda pasti berfikir untuk menyenangkan pendengar Anda. Kesenangan terlihat paling tidak ketika mereka tertawa dan pastilah hal itu dapat memuaskan kita sebagai pembicara. Apa yang membuat orang tertawa? Upaya untuk menjawab pertanyaan ini ternyata telah dilakukan bukan hanya oleh para pelawak tetapi juga para filusuf. Berikut ini beberapa teori humor para filusuf yang diambil dari buku RETORIKA MODERN Pendekatan Praktis karya Jaluluddin Rachmat, yaitu teori superioritas degradasi, teori bisosiasi dan teori pelepasan inhibisi.

Teori superioritas dan degradasi. Kita tertawa bila menyaksikan sesuatu yang janggal (mengikut Plato), atau kekeliruan atau cacat (kata Aritoteles). Objek yang membuat kita tertawa adalah objek yang ganjil, aneh, menyimpang.kita tertawa karena tidak mempunyai sifat-sifat objek yang “menggelikan”. Sebagai subjek kita mempunyai kelebihan (superioritas), sedangkan objek trtewa kita mempunyai sifat-sifat yang rendah.

Teori ini tepat untuk menganalisis jenis-jenis humor yang termasuk satire. Satire adalah jenis humor yang mengungkapkan kejelekan, kekeliruan atau kelemahan orang, gagasan, lembaga untuk memperbaikinya. Satire dapat bersifat langsung dengan membongkar hal-hal yang jelek atau membesar-besarkannya; atau tidak langsung, melalui exaggeration, parodi, ironi dan burlesque. Contoh :

· Berikut ini kutipan dari majalah humor (22 Juli, 11 Agustus 1992) yang berupa Exaggeration, berjudul “Kiat Berhenti Merokok”:

1. Olah raga secara rutin. Pagi lari marathon, siang angkat besi, sore tinju, malam yoga, pagi lari. Begitu seterusnya. Dijamin tidak ada waktu untuk merokok.

2. Buang semua peralatan merokok, seperti pipa, asbak, dan kios penjual rorok yang mangkal di depan rumah Anda. Jangan keterusan membuang jari dan mulut Anda. Repot akibatnya.

3. …………………..

Teori bisosiasi. Teori ini dirumuskan oleh Arthur Koestler, tapi berasal dari filusuf-filusuf besar seperti Pascal, Kant, Spencer, Schopenhauer. “Kita tertawa”, kata filusuf yang terakhir disebutkan, “bila secara tiba-tiba kita menyadari ketidaksesuaian antara konsep dengan realitas yang sebenarnya”. Ia memberikan contoh dengan kisah ini: Beberapa orang sipir penjara mendapat kesempatan bermain kartu dengan seorang napi. Ternyata napi itu mengecoh mereka. Para sipir marah dan menedang napi itu keluar penjara.

Menurut Koestler, dalam contoh tersebut ada dua hal yang berbenturan: napi harus dihukum di penjara dan pengecoh harus ditendang keluar. Dua hal ini sama-sama benar. Tetapi ketika kita menyadari bahwa napi itu ditendang keluar penjara, kita tiba-tiba menyadari adanya kejanggalan.

Menurut teori ini, humor timbul karena kita menemukan hal-hal yang tidak diduga, atau kalimat (juga kata) yang menimbulkan dua macam asosiasi. Yang pertama kita sebut tehnik belokan mendadak (unexpected turns); kata yag kedua, asosiasi ganda (puns). Contoh :

· Di bawah ini, Jalaluddin Rachmat mengutip humor-humor dari Mama Papa Hua Ha Ha Ha:

Wanita itu berkata, “Suami yang saya inginkan adalah yang bias melawak, bernyanyi dan bercerita; yang bila malam dengan setia menemani saya di rumah; yang bisa diam bila saya tidak ingin mendengarnya”.

Temannya menyela, “Saya rasa yang perlu kamu cari adalah pesawat televisi. Bukan laki-laki”.

Paul sedang menceritakan teman wanita yang sangat dicintainya agak mengeluh, “Kami bermaksud menikah tetapi keluarganya keberatan”.

“Siapa yang tidak menyetujui perniokahan kalian, Paul? Ayah dan Ibunya?”

“Bukan! Ayah dan Ibunya justru mendukung kami.”

“Lantas siapa?”

“Suami dan anaknya.”

Teori Pelepasan Inhibisi. Ini adalah teori yang paling “teoritis”, sehingga tidak begitu banyak manfaatnya buat kita. Seperti Anda lihat dari istilah inhibisi, teori ini diambil dari Sigmund Freud. Kita banyak menekan kea lam bawah sadar kita pengalaman-pengalaman yang tidak enak atau keinginan-keinginan yang tidak bisa kita wujudkan. Salah satu di antara dorongan yang kita tekan itu adalah dorongan agresif. Dorongan agresif masuk ke alam bawah sadar kita dan bergabung dengan kesenangan bermain dari masa kanak-kanak kita.

Bila kita lepaskan dorongan ini dalam bentuk yang bisa diterima oleh masyarakat, kita melepaskan inhibisi. Kita merasa senang karena lepas dari sesuatu yang menghimpit kita. Kita melepaskan diri dari ketegangan. Kita senang. Karena itu kita tertawa. Bersama Freud, yang menganut teori ini adalah filusuf-filusuf Charles Bernard Renouvier, Agute Penjon dan John Dewey. Kecuali yang terakhir, hampir semua dari nama-nama itu tidak begitu Anda (juga Jalaluddin dan saya) kenal. Tetapi tidak apa. Lagipula, dalam bagian ini, kita tidak membicarakan contoh dan tehnik humornya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.